Archive for July 2012

Story-1

Hari menjelang senja, sebuah Kota Kecil bernama Pekalongan, dikenal sebagai penghasil Industri Batik. Seorang anak lelaki berjalan tertatih sambil mendorong gerobak butut, usianya sekitar 10 tahun, setiap kali bertemu tempat pembuangan sampah dia mengais, memilih sampah plastik atau kardus, dengan cekatan sampah plastik atau kardus ditusuk dan dilempar kedalam gerobak bututnya. Sudah sekitar dua tahun anak lelaki ini menjadi pemulung sampah untuk menyambung hidupnya. Tak seorangpun tahu darimana asalnya, beberapa orang mengetahui, dia tinggal dalam sebuah gerbong kereta api bekas di stasiun Pekalongan. Penjaga malam stasiun mengenalnya dan membiarkan karena rasa iba.

Setiap sore menjelang malam, setelah menjalani kehidupan dengan memulung sampah, hari-harinya diwarnai rutinitas, memulung, menyetorkan hasil pulungan ke salah satu bandar sampah di bilangan desa Tirto, sebagai hasil jerih payah seharian dia mendapatkan pembayaran sampah antara 20.000 rupiah sampai 60.000 rupiah, tergantung nasib baik atas hasil sampah plastik atau kardus yang dikumpulkannya.  Sesekali mendapatkan penghasilan lebih bila ada warga menyuruhnya memotong rumput, memangkas pagar halaman, atau membantu pekerjaan kasar lain. Dia dengan sukacita memberikan jasanya, mendapatkan imbalan uang, makan siang dan minum. Kembali "kerumah" untuk beristirahat, mandi menumpang pada Toilet Umum Stasiun Kereta.

Lewat senja, setelah mandi dan merasa segar, dengan pakaiannya yang hanya beberpa lembar, dia sering menawarkan jasa mengangkat tas atau barang lain pada penumpang kereta api. Pada umumnya dia mulai berbaring untuk tidur menjelang tengah malam, dalam sebuah gerbong kereta rusak tanpa penerangan.

Satu hal yang luar biasa pada anak lelaki ini, tidak tampak sinarmata penyesalan atau kedukaan. Tubuhnya kurus, sehingga terlihat Jangkung, kulitnya coklat terbakar sinar matahari, rambutnya sebahu, hitam  lurus. Lengannya berotot dan kaki kecilnya tampak kuat karena terlatih berjalan berkilo meter setiap hari. Cekatan mengangkat tas atau barang lain, saat bekerja di stasiun kereta. Kadang dia dibayar 2.000 rupiah sekali mengangkat barang, dan diterimanya dengan senyum, namun tidak jarang die menerima 20.000 rupiah karena rasa kasihan pemilik barang. Selain pembayaran uang, sesekali dia menerima pemberian berupa coklat, dodol, atau kue kering sisa camilan dalam perjalanan para penumpang.

Tole, demikian para petugas stasiun memanggilnya, sebagian besar petugas stasiun mengenalnya, karena sering bergaul dan memanfaatkan jasanya untuk disuruh membeli rokok, nasi bungkus atau kebutuhan lain. Para sopir angkutan umum juga mengenal sebagai anak yang ringan tangan dan jujur, demikian pula para tukang becak yang mangkal di stasiun kereta api Pekalongan. Tole tidak mengenal hari libur, bangun pagi pukul 04.30, bergegas menuju peron stasiun untuk "bekerja" sampai pukul 08.00, mandi dan mengambil gerobak untuk menekuni profesi lain sebagai pemulung, sampai pukul 16.00, tiba dirumahnya pukul 18.00, mandi sore, berganti pakaian dan kembali ke peron stasiun untuk mengais penghasilan sebagai "porter" tidak resmi.

Dari tahun ke tahun Tole menjalani kehidupan tersebut. Pada hari istimewa, khususnya Lebaran, Tole mendapatkan penghasilan lebih besar, karena banyak warga Pekalongan mudik. Selama bulan Ramadhlan, menjadi bulan panen raya, sebab pada umumnya warga menjadi lebih giat berderma pada bulan Ramadhlan, berharap mengais keistimewaan Ramdhlan dalam kalkulasi Pahala, yang konon menjadi berlipat ganda. Manusia memang makhluk ciptaan Tuhan paling unik, bahkan dalam berderma atau dikenal sebagai shodaqoh oleh ajaran Islam, memperhitungkan musim tambahan bonus, sehingga setiap bulan Ramadhlan muncullah penderma - penderma Royal, yang memanfaatkan Firman Tuhan. Namun Tole harus membayar dengan kebingungan setiap Lebaran, saat anak-anak seusianya berlebaran dengan riang gembira, berkumpul bersama keluarga, Tole hanya bisa merenung dengan ketidak tahuan semakin banyak. Ada rasa rindu akan makna berkumpul dengan keluarga, namun Tole tidak tahu harus kemana menemukan sebuah keluarga. Makna kata keluarga menjadi nisbi dalam pikiran sederhana seorang Tole.

Ingatan tentang keluarga, bapak, ibu, saudara, sangat samar dalam memorinya, Tole sendiri tidak pernah tahu riwayat dirinya, juga tidak memiliki memori terang tentang keluarga. Satu - satunya titik awal kehidupan yang diingat, hanyalah saat ia bangun dengan rasa sakit sekujur tubuh disebuah persawahan. Merangkak bangun dalam gelap malam, tercenung tanpa pengertian sebuah peristiwa, setelahnya ia hidup menggelandang, menemukan gerbong kereta api bekas, membersihkan berbagai barang berserakan, memulai sebuah kehidupan tanpa masa lalu. Namun Tole memiki kemampuan membaca huruf latin dan huruf arab, meski tidak lancar, ini cukup menjadi sebuah catatan, bahwa Tole pernah menjalani pendidikan. Hanya saja ia tak pernah mampu menjawab asal usul dan apa yang terjadi sebelum merangkak di persawahan dalam segala kesakitan. Enam bulan pertama sejak peristiwa itu, Tole pernah mencoba mengingat segala hal, namun tidak pernah berhasil, selain rasa pening pada kepala, sampai akhirnya Tole berkesimpulan, bahwa ia harus menjalani hidup ini apa adanya. Tidak ingin lagi mengingat siap dirinya, ia meminta-minta untuk menyambung hidup, sampai bertemu kawan sesama gelandangan, belajar dari mereka bagaimana memilih benda bernilai jual diantara tumpukan sampah, diperkenalkan kepada juragan barang bekas yang memberinya gerobak butut sebagai modal memulung. Hati kecilnya merasa lebih tentram dengan memulung dibanding meminta-minta. Manyaksikan bagaimana para porter stasiun menawarkan jasa, kemudian iapun mencoba ikut serta.

Setelah satu tahun mempelajari seni mempertahankan diri, kini Tole sudah memahami dan tahu benar apa yang harus dijalani untuk menyambung hidup. Dalam kesempatan beristirahat, Tole suka membaca koran koran bekas, sekedar untuk memelihara pemahamannya atas sederet tulisan. Hadir di Masjid sebagai jamaah shalat jum'at karena didorong nalurinya. Naluri mempertahankan hidupnya sangat tajam dan responsif, tingkat kecerdasannya diatas rata - rata, karena Tole mengatur untuk menyimpan sisa uang penghasilan setelah dibelanjakan pada sebuah pipa besi penyangga menara air bekas di daerah stasiun. Gerbong tempat tinggalnya pernah disatroni preman jalanan, menggeledah seluruh gerbong, memporak porandakan kardus tempat menyimpan pakaian, bahkan membongkar gerobak sampah. Karena hardikan satuan pengaman stasiun yang mengusir para preman jalanan menjauhinya setelah memberikan beberapa tamparan di pipi dan menendang punggungnya. Tole ingin melawan, namun ia sadar tidak akan memenangkan perkelahian, kemampuannya menahan kesabaran karena situasi didorong naluri mempertahankan hidup.

Tole berbelanja sekedarnya, makanan, minuman dan sedikit pakaian. Pakaian ia beli di pasar sayun, dimana banyak penjual barang loakan. Ia merasa cukup dengan semuanya, lembar-lembar pakaian dan celana adalah hasil pemberian warga yang bersimpati kepadanya, atau sekedar ingin disebut dermawan. Mungkin Tole tidak memahami, bahwa kemiskinannya sering dijadikan sarana oleh sementara orang untuk menambah pahala dan berharap masuk surga. Tole sering mendengar uraian surga dan neraka dalam prosesi shalat Jum'at, namun pikirannya tidak mampu memberikan penjelasan lebih jauh, selain Neraka sebagai tempat hukuman dan Surga tempat penghargaan, nanti setelah masa kematian.

*****

Mobil Honda Cielo warna mera maron, meluncur anggun dan parkir di halaman stasiun kereta api Pekalongan, kaki bersepatu kets melangkah keluar seterah derum suaran mesin berhenti total dan pintu mobil terbuka. Sesosok lelaki berumur 30-an, tampak gagah bercelana jeans, mengenakan t-shirt polo warna hijau daun, sebuah kombinasi sportif, rambutnya panjang diikat ekor kuda, menjadikan tampilannya begitu flamboyan. Menutup pintu mobi, menyalakan  pemantik untuk menyalakan rokok yang terselip dibibirnya. Bergegas menuju peron setelah sejenak mampir didepan papan pengumuman. Tampaknya ia akan menjemput seseorang, embun pagi dinihari menyelimuti kota, namun lelaki itu tidak terlihat kedinginan, senyumnya tegas ramah. Berdiri mengamati, ke kiri dan ke kanan, kemudian melangkah mendekati bangku panjang, duduk bersilang kaki, tak lama tangannya merogoh saku celana dan iapun sibuk menerima panggilan telepon genggam, setelah berbicara sambil sesekali diiringi tawa, iapun mengembalikan telepon genggam kedalam saku celananya.

Tole berpakaian rapi meski agak kusut sana sini, karena pakaiannya tidak mengenal arti seterika. Sudah tiga menit Tole mengamati lelaki berkaos hijau daun, ia sudah sangat ahli mengenal calon pelanggan. "Sungeng ndalu Pak" sapa tole ramah. Lelaki itu menoleh dan tersenyum ramah, tanpa menjawab sapaan. "Bade methuk Pak ?" kembali Tole berusaha beramah tamah. "Dalem Tole Pak, bade nyuwun tulung menawi wonten ingkang saget dalem betak-aken, tas, barang menopo kemawon" ujarnya memperkenalkan diri dan menawarkan jasa. Lelaki muda itu tersenyum lebar dan melambai "Njagok kene Le" kata sang lelaki. Tole tergesa melangkah maju dan duduk agak berjarak dari calon langganannya. "Mene ojo adoh-adoh" kembali lelaki itu berkata dengan dialek Pekalongan sangat kental. "inggih Pak" kata tole dan sedikit bergeser. "Wis mangan durung kowe" tanya lelaki muda itu seraya memandangi Tole seakan menyelidik. "Dereng Pak" jawab Tole pendek. "Ayo melu nyong" Ajak si lelaki tegas. Tole tertawar lebar dan mengikuti langkah cepat sang Lelaki. "Omahmu ngendhi kok yah mene wis tekan stasiun ?" lelaki itu bertanya setelah mereka berjalan berendeng. "Kulo mboten gadah griyo Pak, tilem teng gerbong" Jawab Tole tangkas. Lelaki itu tercenung dan tertawa lebar. "Ojo ndobol. Cilik - cilik wis pinter ngapusi" Lelaki itu berhenti sejenak "Warung sing enak ngendhi Le?" "Saestu Pak, Kulo tilem teng gerbong, teng ngajengan wonten warung mbak Witri, eco sego megenone" Tole menjawab antusias. Lelaki itu berbelok ke kiri dan keluar dari area peron stasiun menuju bagian depan "Opo yah mene zik bukak?" katanya. "Tasih Pak, warung mbak witri tasih bukak". Tole agak berlari mengikuti langkah cepat sang lelaki.

Mbak Witri adalah nama penjual sego megono yang terkenal di bilangan stasiun Pekalongan, membuka warung dengan memanfaatkan ruangan kosong milik stasiun. Tidak terlalu luas, namun cukup untuk menampung tiga meja dengan enam bangku panjang. Menyediakan sego megono, makanan khas Pekalongan, dengan berbagai lauk, tempe goreng tepung, tahu goreng tepung, telur dadar, ayam goreng dan sayur lodeh, selain megono. Mbak Witri dibantu dua anak muda dan satu perempuan separo baya melayani pelanggan. Tole duduk manis disamping lelaki muda itu, mbak witri melayani dengan ramah setelah menanyakan keinginan tamu-tamunya. "Berkah kowe le, yah mene ditraktir" celoteh mbak witri riang. Semua tertawa lebar. Tak lama sepiring nasi hangat ditaburi megono yang juga hangat terhidang dihadapan Tole dan sang Lelaki. Mereka berdua lahap menikmati sego megono, tole mengambil dua tempe goreng setelah minta ijin pada bapak muda dan dijawab dengan angukan pendek.

Keduanya tidak banyak berkata-kata, hanya sesekali saling memandang, bertukar senyum. Seraya menikmati hangatnya teh tubruk, setelah kenyang oleh nasi megono, lelaki muda masih sering memandangi Tole, tidak tersirat makna apapun pada pandangan matanya, nyaris kosong. "Pak sepure badhe dugi" Tole berseru dan berdiri, lelaki berkaos hijau membayar harga makan, minum, mengikuti langkah Tole yang setengah berlari menuju peron, terdengar pengumuman kedatangan KA Sembrani. Tak lama kemudian, gemuruh mesin lokomtif diiringi getaran gagah terasa oleh orang - orang di peron stasiun Pekalongan, dari arah barat sorot lampu KA Sembrani bagaikan putri matahari menembus kegelapan, diiringi jeritan suara logam beradu, lokomotif beserta seluruh rangkaian gerbong penumpang berhenti di rel satu. Penumpang tertib berbaris keluar, lelaki berkaos hijau berlari kecil menuju gerbong lima, diikuti Tole.

"Hai Mas Iin" seorang lelaki berjaket hitam berteriak dan melambaikan tangan, disambut gerai tawa lelaki berkaos hijau, mereka bersalaman, berpelukan, bagaiman dua kekasih saling merindukan. Tole dengan sigap mengambil alih sebuah koper kecil dari lelaki berjaket setelah Mas Iin mengangguk "Wah nduwe ajudan saiki" kelakarnya, Mas Iin tertawa berderai. Ramai sekali dua sahabat saling bertukar cerita, Sigit, demikian nama lelaki berjaket hitam, sahabat karib Iin, lelaki berkaos hijau. Iin adalah panggilan akrab, atau nama kanak-kanak dari Solikhin Yuli Santoso, seorang pengusaha Pertambangan batu-bara dan emas. Mereka berdua putra-putra Pekalongan yang hidup di ibukota Jakarta, karena situasi di kota kelahiran tidak mendukung kehidupan mereka. Sigit Sadewo demikian nama lengkapnya, kini bekerja sebagai sales manager sebuah perusahaan produsen obat Merck. Keduanya berkunjung ke Pekalongan untuk mengurus organisasi alumni sekolah menengah atas, dimana dahulu mereka bersekolah.

Tole berlari kecil mengiringi dua sahabat yang asyik bercanda, bertukar cerita ditaburi tawa gembira. "Jambrettttt ... !!!" tiba-tiba terdengar suara Tole berteriak, dua sahabat tersentak kaget dan melihat seorang lelaki kekar berlari menjinjing koper milik sigit, yang berhasil ia rampas dari tangan Tole. Tole mengejar lelaki tersebut tanpa memperdulikan apapun, diikuti Iin dan Sigit. Sang penjambret terus berlari namun Tole sangat gesit dan ringan mengejar, 90 detik kemudian terdengar Tole melenguh dan terjerembab, penjambret memukul kepala Tole dengan koper. "Tulungi bocah kuwi" teriak Iin sambil terus mengejar penjambret, 67 detik kemudian suara gedebum tubuh penjambret roboh dihalaman stasiun setelah Iin meloncat dan menendang punggung penjambret, Iin merampas koper sigit dan menelikung sang penjambret, ramai orang orang berdatangan dengan wajah geram. "Tahan" teriak Iin saat melihat gerombolan masa hendak memukul penjambret yang sudah tidak berdaya.

Petugas polisi menangkap sang penjambret, setelah berbicara sejenak, Iin meninggalkan kerumunan, menjinjing koper dan menghampiri Sigit yang tengah menolong Tole, menggunakan saputangannya untuk menahan kucuran darah dari pelipis Tole. Setelah saling mengangguk, Sigit memondong tubuh Tole yang pingsan menuju Cielo Merah maron, Iin mengemudi dan Sigit menjaga Tole di bangku belakang, di tengah jalan Tole merintih, tujuh menit kemudian mereka sudah berada di ruang gawat darurat rumah sakit bendan. Tole mendapatkan pertolongan, luka dibersihkan, dijahit dan dibawa keruang perawatan. Sigit dan Iin masih tidak kehilangan tawa, mereka menganggap kejadian penjambretan sebagai sebuah lelucon saja. "Nyuwun ngapunten Pak" Tole memandang Iin dan Sigit bergantian ketika sadar. Iin tersenyum dan berkata lembut "ora popo, wis ditambani, sing lhoro ngendi Le" Tole menjawab dengan meringis ketika mencoba menggerakkan badan, lehernya terasa sakit. "Wis nglegereng bae" kata Sigit kemudian.

*****

Tujuh hari sejak peristiwa di stasiun kereta api Pekalongan, perjalanan hidup Tole menapaki episode baru, Iin memutuskan mengajak Tole ke Jakarta untuk tinggal dirumahnya, sebuah rumah mewah di bilangan Jakarta selatan. Pada mulanya Tole agak gamang, Iin menempatkan Tole pada sebuah kamar di pavilliun kiri. Hal-hal sepele seperti buang air besar membuat Tole hampir tidak betah, kebiasaan buang air besar di sungai berganti dengan duduk diatas kloset membutuhkan latihan tersendiri, mandi menggunakan shower juga tidak mudah buat Tole, kebiasaan bekerja keras tiap hari sementara kini tidak tahu apa yang harus dikerjakan saat bangun pagi. Tole memutuskan bekerja apa saja yang bisa dikerjakan, menyapu halaman, memotong rumput, menata taman, membersihkan pagar tembok, mencuci mobil dan beberapa pekerjaan lain diluar rumah. Meski tidak dilarang, Tole agak enggan untuk berada dalam rumah, kecuali dipanggil oleh Tuan Rumah atau pembantu.

Iin diam-diam memperhatikan inisitaif Tole untuk senantiasa menemukan hal-hal yang biasa dikerjakan, seringkali sengaja Iin menyuruh Tole membeli sesuatu di warung dekat rumah, semata untuk bisa berkomunikasi dengannya, Iin mengetahu bahwa Tole bukan seorang anak buta huruf, seringkali Iin melihat Tole membaca koran bekas, dan akhirnya tiap sore Iin menyerahkan koran pagi kepada Tole sebagai bahan bacaan, ini sangat membantu Tole melewati waktu-waktu malam, saat sendirian dalam kamar, Tole membaca hampir seluruh halaman koren, termasuk iklan baris. Melihat semua itu akhirnya Iin memutuskan memanggil guru kerumah dan menyelenggarakan home schooling bagi Tole, karena belum tahu sampai dimana tingkat pendidikan formal Tole. Terlalu rumit buat Iin mencoba menemukan keluarga Tole, beberapa kawan di Pekalngan dimintanya untuk mencari jejak sanak keluarga Tole, namun sejauh ini tidak membuahkan hasil yang diharapkan. Berbagai fasilitas yang ada dimanfaatkan seperti facebook, google-plus serta sarana media ssial lain untuk mencari jejak sanak kadang Tole, tapi tetap saja tidak ada informasi. Tole bagaiman sosok misterius yang muncul begitu saja ke dunia dari negeri antah berantah

Location: Pekalongan, Indonesia
Posted in |

About Me

My photo

a Man who do like The God's Humor, Linux Lover, Android Fellow.

Google+ Followers

Search

Swedish Greys - a WordPress theme from Nordic Themepark. Converted by LiteThemes.com.